I hate losing things. I hate losing person. I really hate it when there are signs everywhere that something truly will happen and I just hardly accept it.
Bisa dibilang saya punya sedikit kemampuan “membaca”-bukan melihat-sesuatu yang mungkin akan terjadi ke depannya. Tentang kematian dan kehidupan, empat kali saya membaca pertanda-pertanda dan terbukti benar. Tentang jodoh, well, dua kali membaca dan nyaris benar.
Emang sih, kematian, kehidupan, jodoh atau rezeki itu rahasia Tuhan. Tapi entah kenapa saya kadang-kadang juga bisa tau tentang kematian, kehidupan, dan jodoh seseorang (untuk masalah rezeki, saya sama sekali tidak bisa membaca). Lebih tepatnya tentang orang-orang yang dekat dengan saya, seperti keluarga, sahabat, atau gebetan.
Saya sudah bisa merasakan bahwa usia seseorang akan berakhir tepat sehari sebelum orang itu meninggal. Mereka adalah almarhum kakek saya (2 orang) dan seorang sahabat dekat saya. Saya juga sudah bisa merasakan bahwa seseorang akan selamat ketika ada sepupu saya yang mengalami kecelakaan cukup parah, tidak sadarkan diri selama beberapa hari di ruang ICU, kasusnya bahkan bisa dibilang lebih parah dibanding kecelakaan yang dialami sahabat saya. Ketika saya melihatnya dan memegang tangannya, saya tahu dia pasti akan sadar atau terhindar dari maut sementara pada saat itu memang nyaris tidak ada harapan hidup untuknya, dan memang betul perkiraan saya itu. Sepupu saya hidup sehat hingga saat ini meskipun amnesianya tidak pernah sembuh dan satu matanya tidak lagi bisa melihat dengan normal.
Sementara untuk masalah jodoh, kurang lebih ini adalah perkiraan saya tentang orang yang mungkin akan menjadi jodoh saya. Bisa dibilang, saya baru pernah dua kali jatuh cinta dan itu berlangsung paling sebentar 4 tahun lamanya. Lelaki pertama adalah yang saya temui ketika SMP. Waktu itu saya membaca kemungkinan bahwa saya menyukai lelaki yang tepat yang mungkin saja menjadi jodoh saya melalui tanggal. Ada kecocokan antara tanggal lahir saya dan tanggal lahir dia yang saya baca dan membuat saya memiliki kesimpulan kalau jodoh lelaki itu adalah perempuan yang lahir tanggal 13 Oktober. Well, pada waktu itu saya berpikir, siapa lagi kalau bukan saya?
Tapi setelah bertahun-tahun berlalu, nyatanya dia tidak pernah “melihat” saya. Mungkin jodohnya memang bukan saya, tapi feeling saya tidak sepenuhnya salah. Saya menemukan fakta bahwa pacarnya yang sekarang-yang bisa dibilang sangat serius dan mengarah pada pernikahan-lahir pada tanggal 13 Oktober juga. Saya tidak salah “membaca”, tapi saya memang salah memperkirakan.
Satu lagi perkiraan saya tentang jodoh berkaitan dengan lelaki yang lahir di tanggal, bulan, dan tahun yang sama dengan saya. Tanggal juga terlibat dalam perkiraan saya kali ini, tp bukan hanya sekedar tanggal lahir yg sama. Tidak hanya itu, ada beberapa detail lain yang menurut saya mengarahkan pada satu kesimpulan bahwa “yes, he is the one”. Ditambah dengan perkataan seorang teman yang dikatakan jauh hari sebelum saya jadian sama cowok itu: “nanti anak-anak lo bakal ngerayain ulang tahun orang tuanya barengan”. Maka kepala saya semakin besar dan keukeuh kalau kali ini pertanda yang saya baca tidak mungkin salah. Dan saya mengambil segala resiko dengan segala keyakinan bahwa dia adalah benar jodoh saya dan saya telah berkorban segalanya, namun akhirnya dia pergi juga.
Mungkin saya salah perkiraan (lagi). Atau mungkin hanya kurang tepat sasaran. Atau mungkin, Tuhan nge-pending dulu kepastian akan jodoh saya dengannya hingga masa yang akan datang. Entahlah, saya juga ga tau. Saya hanya membaca pertanda yang Tuhan berikan. Lalu saya berdoa kepada Tuhan untuk yang terbaik dari hasil membaca saya tersebut. Bahkan untuk masalah kematian, saya berdoa untuk orang-orang terdekat saya agar diberi kematian yang baik, dan mereka memang meninggal di hari yang baik, hari Jumat, persis seperti apa yang saya minta dalam doa.
Dan sekarang, saya lagi-lagi dihadapkan pada pertanda kematian. Orang yang sangat saya sayang, satu-satunya lelaki yang paling saya percaya di muka bumi. Orang yang selama ini memberi saya kehidupan, tapi belum sedikitpun saya bisaa membalasnya. Justru hanya ada dosa dari kelakuan buruk saya yang ternyata bisa juga dialihkan menjadi tanggungan dosanya juga. Demi Allah, saya makin merasa bersalah. Demi apapun itu, saya berharap pertanda ini salah.
Saya benci kehilangan, apalagi kehilangan orang yang sangat saya sayang. Kehilangan (pacar) sebelumnya adalah murni kesalahan saya dan saya mulai mengerti mengapa Tuhan berkehendak agar saya berpisah dengannya saat ini. Biarpun begitu, saya masih tidak bisa move on. Apalagi jika kehilangan sosok ayah, saya tahu saya akan hancur. Karena saya hanya perempuan lemah dan tidak akan ada lagi lelaki yang menjadi tempat bersandar atau memberikan saya kehidupan. Dan saya berharap ini benar-benar tidak akan terjadi. Tidak sekarang. Tidak saat saya belum siap untuk kehilangan. Saya tidak bangga ataupun senang dengan “gift” ini, tapi apa lagi yang bisa saya lakukan? Saya hanya berharap kali ini saya benar-benar salah “membaca”.






